082233331530

Sejarah Kota Batu Jawa Timur – Kota Batu yang pada jaman dahulu di sebut sebagai ” Deseng mBatu ” ( prasasti Jui II ) atau Desa mBatu merupakan lembah vulkanologi prubakala yang terbentuk karena letusan Gunung berapi purbakala, hal ini dibuktikan dengan adanya pegunungan yang mengelilingi wilayah Kota Batu, adapun bentuk pegunungan tersebut masih tergambarkan bekas – bekas gunung berapi purba.

Selain daripada itu di wilayah kota Batu berlokasi di Desa songgoriti dan daerah ” suketan ” Desa Srebet terdapat sumber air panas yang mengandung belerang, menurut penelitian ilmiah bahwa sumber air tersebut berasal dari dapur magma yang terdapat di bawah salah satu Gunung di wilayah kota Batu ” Gunung Panderman – red “, dan di Kota Batu pula terdapat sumber air pertama yang kemudian sumber air tersebut mengaliri sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa yaitu sungai Brantas, nama sumber air tersebut adalah sumber air Arboretum yang terdapat di wilayah Desa Sumber Brantas Kecamatan Bumiaji.

Adapun Gunung – gunung yang mengelilingi kota Batu adalah :

  • Pegunungan Kawi
  • Gunung Panderman
  • Gunung rajek Wesi
  • Gunung Anjasmara
  • Gunung Banyak
  • Gunung Arjuna

Yang dimana Gunung – gunung tersebut mempunyai nilai history akan adanya Kota Batu yan kemudian Kota Batu disebut sebagai Kota Pardikan ( negara shima ) daerah suci yang tidak dikenakan pajak pada masa kerajaan Kanjuruhan dampai masa kerajaan Majapahit.


Alasan kenapa Kota Batu disebut sebagai Daerah Pardikan

Adalah dikarenakan Kota Batu merupakan garis perbatasan antara kerajaan Kartanegara – Kanjuruhan ( abad 7 – 8 ), garis perbatasan antara Tumapel – Khadiri ( abad 9 – 11 ), pusat padepokan atau kegiatan belajar mengajar, pusat pertapaan para empu ( pembuat keris ), pusat peristirahatan para raja dan permaisuri, hal ini juga tercantum dalam prasasti Lord Minto yang sekarang berada di Leden.

Bukti – bukti bahwa Kota batu pusat padepokan adalah ditemukanya Patung Ganesha yang terdapat di wilayah Desa Torong Rejo kecamat Junrejo dimana Ganesha adalah perlambang pendidikan, dan bukti bahwa Kota Batu merupakan pusat pertapaan para empu adalah banyaknya ” petirtaan ” sumber air suci yang tersebar hampir di seluruh Desa yang ada di Kota Batu, kemudian bukti bahwa Kota Batu merupakan pusat peristirahatan para raja adalah adanya Candi Songgoriti yang kemudian disebut dengan Candi Supo berlokasi di Desa Songgoriti yang konon bahwa Candi tersebut di bangun berdasarkan perintah dari Raja Sindok sebagai salah satu tempat peribadatan maupun tempat istirahat dari beliau pada abad 10.

Sejarah Kota Batu Berdasarkan Legenda


Berdasarkan legenda, sejarah Kota Batu tidak lepas dari penyebaran agama Islam oleh murid pangeran Diponegoro yang bernama asli mbah Abu Ghonaim, konon setelah ditangkapnya Pangeran Diponegoro oleh VOC, maka banyak murid beliau yang lari ke wilayah timur, salah satunya adalah ke Kota Batu.

Setelah sekian lama menetap di Kota Batu beliau bersama kawan – kawanya setiap satu minggu satu kali melakukan rapat tertutup yang di lakukan di atas sumber air yang sekarang dinamakan sumber air Gemulo, dan salah satu di antara mereka bernama Mbah Bener ( dimakamkan di wilayah Desa Temas ) mengungkapkan kalimat jawa ” hasile iki mung di uwat – uwat ojo sampek kewetu ” dimana berasal dari kalimat ” di uwat uwat ojo sampek kewetu ” yang kemudian di singkat menjadi kata ” watu ” Batu dalam bahasa Indonesia.

Untuk Mbah Mbatu sendiri dengan nama asli Mbah Abu Ghonaim kenapa beliau yang dijuluki sebagai mBah mBatu dikarenakan beliau adalah pemimpin dari kawanan murid Pangeran Diponegoro yang lari ke Kota Batu dan setelah beliau wafat beliau dimakamkan di Desa Bumiaji Kecamatan Bimiaji, salah satu alasan kenapa di Bumiaji karena Desa Bumiaji adalah merupakan Desa pertama selain Songgoriti yang berada di Kota Batu.

Sejarah Kota Batu Sebagai Kota Wisata


Seperti yang tercantum di atas, bahwa Kota Batu sejak jaman kerajaan adalah pusat tempat istirahat para raja dan permaisuri, berikut juga pada masa Kolonial Belanda. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bekas – bekas peninggalan belanda berupa rumah – rumah belanda dan sekolah kristen pada masa Belanda, alasan kenapa Kota Batu sebagai tempat istirahat adalah karena kesejukan cuaca Kota Batu dengan suhu rata – rata 9 – 23 drajat celcius, dan ketinggian topografi 600 – 2100 dpl, bahkan kolonial Belanda menyebut Kota Batu dengan sebutan ” De Klien Swzterlad In East Java ” atau Swiss Kecil Di Jawa Timur. kemudian pada tahun 2007 dengan Walikota terpilih pertama Bapak Eddy Rumpoko mencetuskan ide untuk menjadikan Kota Batu sebagai Kota Wisata dengan segala potensi alam yang sangat luar biasa akhirnya terwujudlah Kota Batu sebagai Kota Wisata dengan sebutan Kota Wisata Batu ( sebutan Kota Wisata Batu di prakarsai oleh Agus Purwanto / Mas Ipung penggiat Budaya ) sampai saat ini.

WhatsApp chat